Menilik promo dan trailer-nya yang amat menarik, saya memiliki ekspektasi lebih sebelum menonton Abadi Nan Jaya. Ditambah lagi, pemilihan latar dengan setting yang eksotis turut menambah daya tarik film ini. Abadi Nan Jaya sebenarnya sudah memenuhi sebagian besar standar film keren: setting eksotis, serta tata rias, visual effect, dan scoring yang oke. Namun, unsur primer terkait alur cerita justru terasa kurang.
| tangkapan layar trailer Abadi Nan Jaya: youtube.com/@NetflixIndonesia |
Film ini menjadikan sebuah ramuan jamu sebagai outbreak source. Pak Sadimin adalah pemimpin korporasi pabrik jamu yang hampir bangkrut. Ia menemukan ramuan spesial yang ia kira akan menjadi penyelamat pabriknya dari kejatuhan finansial. Sayangnya, jamu tersebut justru bersifat toksik. Orang-orang berubah menjadi zombie karena meminum jamu itu atau akibat tergigit oleh zombie lain.
Premisnya sebenarnya sangat menarik: sebuah keluarga yang para anggotanya saling tidak akur, tetapi terpaksa bersatu untuk menyelamatkan bisnis jamu yang mulai kalah pamor dari pesaingnya. Namun, hingga akhir film, tidak ada misteri atau konspirasi yang benar-benar dipecahkan. Alhasil, intrik persaingan bisnis dan konflik romansa keluarga tidak dikembangkan lebih jauh. Potensi konflik lain seperti penyelesaian kecelakaan ilmiah dalam proses pembuatan jamu, juga tidak pernah menjadi bahasan. Sepanjang film, isinya cuma kejar-kejaran dengan zombie.
Adegan yang paling saya suka justru scene komedi tipis waktu orang mengira zombie mau ikut sholat jamaah karena mendengar adzan, tetapi ternyata mereka cuma tertarik sama suara besar. Ditambah mungkin karena ada muka Ardhit Erwanda yang kocak itu di sana.
Hal lain yang membuat film ini terasa “kentang” adalah decision making para tokohnya yang terkesan naif. Misalnya, mereka memegang smartphone, tetapi tidak terpikir untuk meminta pertolongan ke netizen saat terkepung zombie. Ditambah lagi kenapa harus buru-buru mengalahkan zombie kalau kabur mencari pertolongan aparat pemerintah setempat juga tidak butuh waktu lama.
Dari sisi teknis, visual effect seperti ledakan-ledakan memang juara. Special effect berupa riasan wajah zombie yang seram, ditambah setting pedesaan, sudah melampaui batas minimal standar film layak tonton internasional. Namun, itu saja belum cukup untuk menyebut film ini sebagai thriller zombie yang solid. Indonesia sebenarnya sudah memiliki standar film atau series zombie yang bagus, yaitu Zona Merah yang tayang di Vidio.com. Jika ada film atau series zombie baru, setidaknya kualitas minimumnya harus menyamai Zona Merah. Sementara Abadi Nan Jaya, bagi saya, masih tergolong so-so aja.









