Review Mufasa : The Lion King Si Lelaki Brengsek !!

Thursday, January 09, 2025

Baru saja saya menonton Mufasa: The Lion King, 31 Desember 2024 lalu, tepat beberapa jam sebelum pergantian tahun. Dan baru saja saya posting lagi tulisan di blog ini juga akhirnya, setelah beberapa tahun.

Pilihan menonton Mufasa, tentu saja simpel. Karena ini film yang sepertinya cocok untuk anak-anak balita. Ya, sejak saya punya anak saya tidak bisa menonton film hanya berdua saja dengan istri melainkan harus membawa serta anak-anak saya.

Saya tidak mengikuti film-film sekuel Lion King dan saya juga tidak menonton Lion King versi animasi. Jadi saya tidak terlalu tahu-menahu mengenai gambaran besar jagad Lion King sebelumnya. Review kali ini serta merta hanya berfokus pada film Mufasa : The Lion King, Si Singa Brengsek itu. Kenapa saya menyebutnya 'brengsek', ya nanti saya jelaskan di akhir.

Cerita bermula ketika Kiara, Si Singa keturunan Simba dan Nala, harus tinggal di rumah sendirian karena kedua orang tuanya mau bulan madu lagi. Kiara ditemani Timon dan Pumbaa duo punokawan kerajaan Simba.

Saat Kiara, beserta Timon dan Pumbaa, ketakutan karena ada guntur bledek, mereka disambangi oleh Rafiki, sejenis babun atau mandrill living legend kerajaan Simba. Rafiki datang berdongeng tentang "Mufasa" orang tua dari Simba dan kakek dari Kiara. Jadi inti film ini adalah mendengar dongeng Rafiki tentang Mufasa, yang mana dulunya Rafiki dan Mufasa sama-sama mengembara hingga berakhir hidup di Milele, tempat mereka tinggal sekarang.

Mufasa diceritakan hanyut ke sungai saat banjir bandang waktu kecil. Lalu dia diselamatkan oleh Taka, anak raja singa dari kawanan lain. Taka merasa senang karena punya saudara baru. Tapi bapaknya Taka, Obasi, tidak senang karena menganggap Mufasa ancaman bagi garis keturunan raja Obasi: Taka is the bloodline holder. Namun Mufasa diterima dan dipelihara dengan baik oleh Eshe, istri dari Obasi, Sang Permaisuri. Masuklah Mufasa ke dalam kawanan Obasi.

Mufasa ini memang ada bakat untuk jadi raja. Punya penciuman tajam, fisik yang kuat, dan kharismatik. Kelak Mufasa bakal berpetualang dengan Taka, saudara angkat atau sahabatnya sejak diselamatkan dari banjir. Mereka berpetualang karena kawanan mereka diserang oleh sekelompok singa outsiders.

Scene film ini rill seperti film organik, bukan animasi. Dengan teknologi CGI yang menakjubkan hewan-hewan itu seperti hewan nyata yang bisa berbicara. Cuma yang bikin saya agak pusing yaitu antara satu singa dan singa yang lain wajahnya mirip. Sama seperti kalau kita nonton film Korea, kita merasa para pemerannya berwajah sama. Inilah yang disebut cross-race effect. Sebagai orang melayu, kita lebih mudah mengidentifikasi perbedaan wajah orang Melayu dengan orang Melayu lainnya, tapi susah membedakan wajah orang Korea dengan orang Korea lainnya, misalnya.

Film ini merupakan fabel musikal. Jadi sepanjang film banyak adegan nyanyi-nyanyi dialog pemainnya, walaupun tentu saja tidak ada tari kolosal seperti film bollywood. Saya tidak terlalu tertarik dengan film musikal, karena lebih suka dialog to the point. Tapi kalau buat anak-anak tentu mereka suka dengan film semacam ini.

Singkat cerita, Mufasa dan Taka harus lari dari serangan kawanan singa outsiders, sampai akhirnya mereka bertemu Sarabi. Taka jatuh cinta dengan Sarabi dan mulai mendekatinya. Celakanya, Sarabi justru cinta pada Mufasa.

Di posisi ini, mengingat segala jasa Taka dan keluarga besarnya kepada Mufasa, harusnya Mufasa tahu diri dengan menjauhi Sarabi. Tapi ia malah akhirnya menikung Taka, tanpa ada kata permisi dan maaf sekalipun yang terucap.

Di akhir, Mufasalah yang jadi jagoannya. Taka cuma jadi penggembira, pesakitan, dan pecundang. Betul-betul kelakuan Si Brengsek Mufasa. Lebih parah dari Rangga di AADC cara mainnya. Main tikung teman sendiri, bahkan dengan mengeliminasi semua jasa keluarga Taka di masa kecilnya. Hahaha.

Kekurangan film ini ya itu tadi, kurang dibuat alasan yang lebih logis dan lebih kuat untuk menjadikan Taka, 'The Scar' sebagai tokoh antagonis.

Terimakasih.

You Might Also Like

0 comments