Premis adalah bentuk keresahan, sudut pandang, opini, atau ungkapan perasaan yang menjadi dasar sebuah lelucon. Premis kemudian dijabarkan melalui setup—berupa kejadian, data, atau konteks—dan ditutup dengan punchline, yaitu bagian yang menciptakan kejutan dan kelucuan.
Tulisan ini adalah catatan saya saat mengikuti materi Bengkel Komika yang dibawakan oleh Angga di Stand Up Indo Gowa. Salah satu konsep yang dibahas adalah tiga sumber utama dalam menggali premis, yaitu: Inner Self, Outer Self, dan Things Around Us.
1. Inner Self (Diri Sendiri)
Inner Self adalah hal-hal yang melekat pada diri kita, baik secara fisik maupun sifat, tanpa ada keterkaitan langsung dengan orang lain. Contohnya:
- Tubuh yang pendek atau tinggi
- Mata yang rabun
- Sifat pemalu atau pelupa
Premis dari Inner Self berangkat dari karakteristik atau pengalaman pribadi yang bisa dieksplorasi menjadi sesuatu yang lucu.
2. Outer Self (Diri dalam Hubungan dengan Orang Lain)
Outer Self adalah aspek yang berkaitan dengan diri kita tetapi dalam konteks interaksi dengan orang lain. Contohnya:
- Pekerjaan dan tantangan yang dihadapi
- Hubungan dengan pasangan atau keluarga
- Interaksi dengan tetangga atau masyarakat sekitar
Dalam premis Outer Self, ada unsur bagaimana dunia luar memengaruhi kita atau bagaimana kita beradaptasi dengan lingkungan sekitar.
3. Things Around Us (Hal-Hal di Sekitar Kita)
Things Around Us mencakup hal-hal yang tidak berhubungan langsung dengan diri kita, tetapi kita memiliki pandangan atau observasi terhadapnya. Contohnya:
- Situasi politik atau kebijakan pemerintah
- Isu sosial dan lingkungan
- Fenomena budaya populer
- Premis dari Things Around Us sering kali bersifat observasional dan bisa lebih luas cakupannya, tidak terbatas pada pengalaman pribadi.
Membentuk Premis yang Kuat
Untuk membentuk premis yang menarik, seorang komika harus menyertakan tanggapan atau respons terhadap sumber premis yang diangkat. Misalnya, jika seseorang ingin membahas warna kulitnya yang gelap (Inner Self), ia harus memberikan sudut pandang unik atau reaksi pribadinya terhadap kondisi tersebut agar premis terasa lebih kuat dan menarik.
Oke, segitu aja. Next kalau ada inputan akan ditulis lagi di blog ini mengenai teori-teori stand up comedy.



