Orang-orang Tak Bernama
Sunday, June 02, 2013
Sebuah pelajaran berharga didapati
dari bakti korps Ahlusshuffah, yaitu sekumpulan orang yang menghabiskan
hari-harinya dengan tinggal di masjid-masjid Nabi untuk berdoa, beribadah,
belajar, dan melayani Rasulullah semasa hidupnya. Kisah tentang Abu Hurairah,
seorang pelayan Rasulullah yang tercatat sebagai periwayat hadits terbanyak
tentu memberi pelajaran bahwa orang-orang sederhana dan tak bernama pun
baktinya bisa sangat dibutuhkan meskipun ia bukan berasal dari kalangan teras.
Abu Hurairah yang tinggal di masjid
bersama kalangan Ahlusshuffah yang lainnya, kala itu bekerja dan digaji dengan
shodaqoh dari umat. Namun siapa sangka, dialah salah seorang yang membuat generasi
penerusnya mampu mengejawantahkan pesan-pesan Rasulullah secara benar melalui
hadits-hadits yang ia riwayatkan.
Memoar tentang orang-orang medioker
dan tak bernama memang selalu tercatat manis dalam benak pengagumnya. Saya baru
mendengar nama-nama Sentot
Prawirodirjo, Kyai Mojo, dan Tumenggung Mulyosentiko saat membaca
resensi film “Pahlawan Goa Selarong” yang mengisahkan perjuangan Pangeran
Diponegoro melawan Belanda (mungkin saya terlalu malas baca sejarah). Beberapa waktu
kemudian, saya dapati di hasil pencarian Google, sudah jamak rekognisi mengenai
ketiganya, terutama terkait perjuangan mereka dalam Perang Diponegoro. Julukan
Sentot Prawirodirjo sebagai Napoleon-nya Jawa yang diberikan oleh salah seorang
blogger pun mengisyaratkan bahwa kisah-kisahnya terlampau mulia untuk
dilupakan.
Dalam kasus yang lebih segar, di
kehidupan kita sekarang, ada juga kisah serupa. Seperti kisah pendahulu-dan-suksessor
jabatan wakil presiden RI yang bekerja di bawah kepemimpinan SBY, kisah Jusuf
Kalla dan Boediono.
Boediono dan Jusuf Kalla memang tak
lebih populer dari SBY. Namun, kontribusi keduanya pada keberhasilan SBY dalam
beberapa hal –seperti perdamaian RI-GAM di era Kabinet Indonesia Bersatu dan
pertumbuhan ekonomi di atas angka 6,0 di era Kabinet Indonesia Bersatu Jilid 2—
tentu tak dapat dipungkiri. Kita akan mendapati seperti ada semangat
anti-kemapanan dan anti-kepopuleran jika ada anak-anak seumuran kita yang
membicarakan kedua orang ini.
Ada juga pengakuan blogger-blogger
anti-mainstream yang gemar menulis sisi-sisi sepak bola yang terlupakan. Sebut
saja tulisan-tulisan mengenai profil pemain-pemain pengisi posisi deep-lying midfielder dalam anatomi
sepak bola. Pemain-pemain seperti Michael Carrick, Paul Scholes, Sergio
Busquets, Gareth Barry, dan selainnya memang tak mendapat tempat di hati fans
seperti striker-striker bintang. Tapi, ada sekumpulan orang yang rela menghabiskan
waktu berjam-jam hanya untuk membicarakan dan menulis tentang mereka, karena
kontribusi mereka dalam permainan memang sangat berarti, sebagai penjaga
keseimbangan permainan. Sebuah peran yang ‘tak terlihat’.
Saya sadar betul, bagaimana saya
mengagumi orang-orang seperjuangan saya yang sama sekali tak dikenal banyak
orang tetapi kontribusinya sangat banyak. Ada rekan yang jago mengurus masalah
sponsorship, hingga –jika saya tidak keliru menghitungnya— ia sudah memberikan
pemasukan pada organisasi yang saya ikuti lebih dari 4 kali harga motor saya
melalui sponsorship. Atau, ada juga rekan yang bersedia mengorbankan kuliah dan
waktu-waktu istirahanya berbulan-bulan hanya demi mendidik generasi-generasi
penerusnya. Ada juga orang-orang yang tak pernah mengeluh saat harus selalu begadang
berhari-hari mengurusi acara-acara kami. Mereka tak pernah dikenal, tapi saya sungguh
merasa kecil, jika melihat mereka. Sebuah kehormatan mengenal dan mendapat ilmu dari mereka.




0 comments